Monday, 12 August 2013

Pertemuan singkat

halo, Bulan..
aku kembali lagi
menulis kerinduanku diatas pasir
tapi mungkin ombak akan melahapnya dengan singkat
membuat tulisanku terbawa hingga dasar laut

Bulan..
apa yang harus ku katakan?
bagaimana dapat ku sampaikan?
akankah Angin Malam bersedia membisikkan pesanku?
ataukah para Peri Bintang akan menunjukkan padamu betapa merindunya aku?

Dan aku masih menunggu..
pertemuan singkat kita selanjutnya di sisi lain
atau mungkin di penghujung tahun yang terasa seperti seabad
akankah tiba hari itu, Bulan?
berharap takdir takkan menipuku lagi
ataukah aku hanya mendustai harapan?

tertanda,
Matahari

Sunday, 11 August 2013

#2. Gadis Laut

Kali ini, Gadis Laut dua kembali berjalan ditepi pantai.
Hanya saja, ia tidak melihat anak-anak yang membuat istana pasir dan mengumpulkan beberapa jenis kerang.
Ia melihat Gadis Laut satu dari kejauhan.
Si Gadis Laut satu memiliki wajah yang ramah. Pikirnya.
Matanya yang berwarna coklat berkilat-kilat senang ketika melihat laut.

“Hai..” sapa Gadis Laut dua setelah duduk disampingnya.
“Hai juga.”
“Kamu juga suka duduk menatap laut?”
“Ya, seperti yang kau lihat. Aku akan duduk diam sambil sesekali menatap langit. Bukankah ini indah?”
“Indah sekali. Kalau begitu, mari kita berteman. Karena, sepertinya aku akan sering kesini.”
“Wow. Menyenangkan sekali bisa berbagi laut bersama. Namaku Amel.”
“Senang berkenalan denganmu, Amel. Aku Vega.”

Begitulah perkenalan awal mereka
Lalu mereka duduk bersama dalam diam
Meresapi udara laut dalam paru-paru mereka
Dalam hati mereka menimbang-nimbang, siapa dulu yang akan bercerita?

#1. Istana Pasir dan Cangkang Kerang

Suatu hari, seorang gadis sedang duduk ditepi pantai
Ia membiarkan kakinya telanjang dan sesekali ombak menjilat ujung jari-jemarinya
Ia menghirup napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan
Aroma laut dan udara pantai adalah yang terbaik, selalu membuat tenang. Katanya dalam hati.

Lalu ia menoleh, menatap anak-anak kecil dari kejauhan.
“Hei, kalian sedang apa?” sapanya ketika mendekat.
“Membuat istana pasir dan mengumpulkan cangkang kerang.” jawab si anak laki-laki berambut keriwil.
“Kalau Kakak sedang apa?” tanya si anak bermata coklat dan berbulu mata lentik.
“Kakak sedang berjalan-jalan. Kakak suka melihat laut.” jawab gadis itu sambil tersenyum.
“Wah, sama dong seperti Kak Amel. Dia kami sebut Gadis Laut. Nah itu dia!” ujar si anak perempuan yang bertubuh kurus.

Gadis itu melihat Amel dari tempatnya berdiri yang cukup jauh.
Ternyata dia si Gadis Laut, ya.
Wah sepertinya kita akan berbagi tempat.
Salam kenal, Gadis Laut.

Santiago de Compostela


CERITA YANG BERKEMBANG DARI MULUT KE MULUT

Rasul Yakobus berlayar lewat Laut Tengah menuju Spanyol, mendarat di pantai Andalusia di selatan, menjelajahi semenanjung Iberia melalui jalan-jalan Romawi sampai tiba di daerah Galisia di sudut Barat Laut. Di sana ia memaklumkan Injil dan membaptis beberapa orang diantaranya Theodorus dan Athanasius yang kemudian menemaninya kembali ke Yerusalem.

Ketika Rasul Yakobus tiba kembali di Yerusalem, situasi setempat sungguh kurang menguntungkan bagi keamanan umat Kristen. Kelihatannya pada tahun 44 ini situasinya mirip kejadian sembilan tahun sebelumnya ketika Stefanus dirajam menjadi martir yang pertama. Orang-orang Kristen mulai disingkirkan dengan kekerasan bahkan kemudian raja Herodes (nama ini nama gelar) menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes dengan pedang. (Kis 12 : 1 – 2). Demikianlah Rasul Yakobus (Tua atau Maior) yang menjadi rasul pertama yang mengorbankan hidupnya demi kesetiaan dan cintanya kepada Kristus. Dia pernah menjadi pemimpin umat di Kota Yerusalem dan kita mengenal SURAT GEMBALA – nya yang menjadi bagian dari Kitab Suci.

(Baik kalau nanti / kemudian Tour Leader atau Romo membacakan beberapa kutipan dan penjelasannya)

Riwayat hidup Rasul Yakobus kemudian dilanjutkan oleh umat beriman dengan pelbagai cerita indah dan sekaligus ajaib, yang mencapai puncaknya dalam jadinya pusat ziarah di Kota Santiago de Compostela.

Konon sesudah kepada Rasul Yakobus dipenggal, jenazah bersama kepalanya yang berdarah dibawa oleh dua muridnya dari Spanyol ke pantai Laut Tengah. Jenazah sang martir itu digotong ke sebuah perahu yang kebetulan tertambat di pinggir laut. Bersama kedua muridnya yang ikut naik, perahu yang tak terkemudi itu digerakkan oleh angin dan arus ke arah barat. Sampailah perahu itu di Semenanjung Iberia atau Spanyol. Konon selama perjalanan laut tersebut, jenazah Yakobus dilapisi oleh kerang-kerang dari suatu jenis yang dapat dimakan. Kerang-kerang itulah yang dijadikan lambang dari peziarahan Santiago dan para peziarahnya. Kerang ini sering juga menjadi simbol dari cintakasih ilahi dan insani yang merupakan pasangan yang paling pas.

Jenazah Rasul Yakobus digotong ke pantai Galisia, lalu Theodorus dan Athanasius minta kepada penguasa setempat yang bernama Lupa (artinya serigala) sebidang tanah guna memakamkan sang rasul. Ratu yang bengis itu mengatakan : “Pergilah ke pegunungan itu dan ambillah sepasang kerbau yang akan menghela kereta jenazah kemana pun engkau mau”. Rupanya kerbau itu adalah sekawanan banteng liar. Alangkah herannya ratu lupa karena ternyata banteng banteng itu jinak di hadapan orang-orang kristen. Lalu dia menyuruh pasukannya untuk mengejar mereka, namun pasukan itu tertahan karena sebuah kali kecil mendadak mulai membanjir. Menyaksikan segenap peristiwa itu, ratu itu bertobat. Kemudian jenazah Rasul Yakobus dimasukkan ke dalam peti marmer (sarchopagus) dan dimakamkan.

Tanpa diketahui siapa pun jenazah Rasul Yakobus beristirahat selama berabad-abad di bawah semak-semak, sampai tahun 813 ditemukan oleh seorang pertapa yang bernama Paio, yang sebelumnya melihat sinar-sinar yang terang bagaikan bintang melintasi pegunungan Libredon (Campus Stellae – lapangan bintang). Jenazah Rasul Yakobus dikenal karena adanya tulisan di batu sarchopagusnya.

Berkat penemuan ini selanjutnya dibangunlah kapel oleh Raja Alfonso II dari Asturia. Bahkan kabar ini pun kemudian disampaikan ke Sri Paus di Roma serta kepada kaisar. Dalam waktu singkat orang-orang datang berziarah bahkan mulai menetap di sekitar makam Santiago. Namun baru pada tahun 1095 tahta Uskup dipindahkan secara resmi ke Santiago de Compostela. Nama tambahan Compostela baru muncul kemudian yang berarti Lapangan Bintang.

Ada cerita yang cukup menarik yang sampai kini masih terus menggema di hati para peziarah atau penduduk Santiago de Compostela yakni cerita tentang penampilan santo Yakobus pada saat pertempuran antara pasukan moslem bersenjata pimpinan Khalif Cordoba dan Raja Asturia dekat Claviyo. Tersebutlah saat kedua balatentara saling memukul dan menikam, sekonyong-konyong tampak seorang pejuang ningrat menunggang seekor kuda putih, dengan tanda salib Yesus di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya. Dia mengalahkan banyak musuh yang kemudian dikenal sebagai Santiago, yang sejak kemenangan ini diberi nama tambahan : Matamoros (pembunuh kaum moros)..

KUNJUNGAN KE SANTIAGO DE COMPOSTELA

Bersama dengan Jerusalem dan Roma, Santiago merupakan salah satu pusat kristiani yang sangat penting. Santiago boleh dikatakan adalah sebuah kota yang dibangun disekeliling makam Rasul Yakobus. Berada di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dan hanya berjarak 30 km saja dari laut. Suhu yang sangat menyenangkan baik di musim dingin maupun panas tetapi pada umumnya Santiago dikenal sebagai kota hujan. Berpenduduk sekitar 90.000 jiwa dan terus bertambah dari hari ke sehari. Di atas semua itu Santiago de Compostela merupakan sebuah Kota yang monumental. Pada tahun 1985 Santiago dinyatakan sebagai Warisan Kemanusiaan dan Jalan Santo Yakobus diterima sebagai Jalan Kebudayaan Eropa Pertama.


YANG MENARIK DARI GEREJA RASUL YAKOBUS


Para peziarah Santiago yang biasa disebut Jacquot (mereka berjalan beribu-ribu kilometer selama berbulan-bulan) datang ke tempat ini dan menatap Katedral Santiago yang agung dan anggun dengan sepenuh diri dari lapangan Obradoiro. Katedral itu berhias indah dengan banyak relief dan patung yang mempesona, dimahkotai dengan dua buah menara yang megah. Fasade bergaya barok itu sungguh mempesona.

Gereja ini pernah dimusnahkan tahun 997 oleh Khalifat Cordoba dan kemudian dibangun lagi menjadi Katedral seperti ini di tahun 1075. Para peziarah menaiki tangga lebar dari kiri dan kanan langkah demi langkah. Betapa terperanjatnya mereka pada saat memasuki Pintu Kemuliaan (Portico de la Gloria). Kurang lebih 250 patung tersusun dalam tiga lingkaran besar merangkul pintu masuk gereja. Sang seniman Mateo-lah yang menghabiskan waktu hingga 20 tahun untuk membuatnya. Kita berada di tengah keluarga besar orang-orang kudus yang dilukiskan oleh Mateo dengan sangat hidup, (berbeda dengan patung-patung kebanyakan di Roma yang cenderung “dingin” dan sangat kental triumfalistisnya). Lihatlah Nabi Daniel yang seakan sedang bercakap-cakap dengan Nabi Yeremiah atau Rasul Yakobus yang sedang berbisik-bisik dengan saudaranya Yohanes sementara Nabi Musa sedang menengokkan kepalanya kepada Nabi Yesaya dls.

Para peziarah dengan penuh cinta dan emosional meletakkan tangan pada tapak yang membekas di atas batu granit (yang terbentuk karena sentuhan tangan jutaan peziarah) serta kepada pada arca singa di bawah patung Santiago, pula membentur-benturkan kepalanya pada arca kepala Santiago tentunya semua ini dilakukan dengan seluruh kepekaan imannya.

Diujung ruangan tengah dari Gereja yang panjangnya 97 meter ini, terdapat sebuah altar kolosal, lengkap dengan malaikat-malaikat dan bunga-bungaan keemasan, tepat di tengahnya bertahta Santiago, berbusana mantilla perak berlapis batu-batu permata dan para peziarah dengan penuh emosional merangkul dan menciumnya (semua harus antri untuk menantikan gilirannya). Selanjutnya para peziarah menuruni tangga menuju ke makam Santiago yang ada di grotto (gua kecil)

Suasana di dalam gereja ini sungguh dilingkupi oleh suasana surgawi dalam gedungnya yang cenderung gelap namun justru umat beriman merasa nyaman dalam rangkulannya yang mantap. Dari sini memang kadang kita berpikir bahwa devosi Kristen tidak jarang bergerak di perbatasan antara perasaan dan pemikiran.

Perlu kita tahu bahwa Katedral ini mempunyai Pintu Sucinya sendiri, namun pintu ini tidak dibuka sesuai dengan apa yang terjadi pada Pintu Suci di Basilika – Basilika di Roma melainkan pada tanggal 25 Juli (Pesta St. Yakobus) jika hari ini kebetulan jatuh pada hari Minggu. Semisal tahun 1989, Bapa Suci juga hadir di sana untuk merayakan tahun suci yang ke - 116. Tiap hari setiap jam 12 siang pada tahun suci ini diadakan Misa Agung dan kemudian ditutup dengan ayunan Botafumeiro yang sangat tipikal Santiago. Tempat pedupaan ini hampir setinggi satu meter, yang diayun oleh sekitar 8 petugas. Ketika pedupaan ini berayun – ayun ke kiri dan ke kanan bahkan kadang hampir menyentuh atap plafon yang sangat tinggi itu, asap dupa membubung ke atas dan memenuhi ruangan, menghantar semua doa kepada Allah dan sekaligus menjadi tanda hormat dan sembah pada Tuhan serta sarana pemurniaan bagi umat.

Selamat berziarah, semoga perkembangan sarana – sarana transportasi yang kian canggih, tidak mengurangi kepekaan iman kita akan misteri – misteri Illahi.



Gereja Katedral


Bentuk kerang sebagai lambang Santiago de compostela


Doa para peziarah dalam perjalanan menuju Santiago de Compostela

Tuhanku..
Bicaralah padaku bila aku kesepian
Bisikkanlah dukungan-Mu bila aku dirundung kecemasan,
Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh,
Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan,
Tempat bernaung di waktu panas,
Tempat berteduh di kala hujan,
Tongkat penuntun dalam kelelahan,
dan penolong dalam bahaya.
Semoga aku berhasil mencapai tujuanku
sekarang dan juga nanti, pada akhir hidupku...

It can’t be

Really a person who can’t do anything you’ve meet
Really a person who gives a hard time you’ve meet
I have nothing that I can prepare for you
I don’t have the confidence to send you away like this

It can’t be, to live a day without you, without you, feels like dying
It can’t be, it can’t be, without you, feels like dying
Without you, seems like I can’t live, how can I live

I’m sorry for so many days
Really regret it till I can die coz of it
Really want to give you only a happy memories
Our love doesn’t even worth to it

It can’t be, to live a day without you, without you, feels like dying
It can’t be, I can’t be, without you, feels like dying
Without you, seems like I can’t live, how can I live

You doesn’t know how much I love you
If only I know it, I’d rather go from the beginning
Why does my eyes keep chasing you
I just want to go on living well, but it can’t be

It can’t be, to live a day without you, without you, feels like dying
It can’t be, I can’t be, without you, feels like dying
Without you, seems like I can’t live, how can I live

Nostalgia SMP

         Pagi ini, aku lagi-lagi mengobrol dengan teman lama. Kali ini dengan teman seperjuanganku zaman SMP. Kami membicarakan semuanya. Tentang teman-teman angkatan kami yang sudah married dan bernostalgia mengenang masa kejayaan kami. Aku pun tiba-tiba teringat pada seorang anak laki-laki dari kelas sebelah.  Aku tersenyum sendiri mengingatnya.
         Hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah setelah kepindahanku ke kota lumpia ini. Jadi, aku belum mengenali sekolah baruku. Lalu, saat aku mampir ke kelas sebelah, menemui teman baruku (karena masih baru, jadi masih ngekor gituu), tiba-tiba sosok anak laki-laki dengan tinggi menjulang menegurku dari belakang.
       “Namamu Lestari, ya?” tembaknya langsung.
         Saya berbalik dan melongo. “Hah?? Lestari??”
       “Ehh.. Bukan, ya?” katanya salah tingkah.
         Ketika menyadari situasi yang terjadi, sontak aku pun tertawa geli. Ternyata seorang teman kelasku sedang mengusilinya.
       “Dia mau kenalan sama kamu, Ren!” teriak teman sekelasku sambil tertawa terbahak-bahak.
        Aku masih menahan tawa yang rasanya sewaktu-waktu bisa saja menyembur anak laki-laki lugu dihadapanku ini.
        “Jadii.. Namamu siapa?” kata anak itu lagi. Rupanya ia nekad sekali ingin tahu namaku! J
        “Namaku Iren.” jawabku masih dengan raut wajah geli.
        “Ohh.. Iren, ya.”
         Sebelum aku sempat bertanya namanya, ia langsung melenggang pergi menuju temannya yang mengusilinya tadi. Aku memandangnya dengan perasaan nano-nano. Antara lucu, tersanjung, kagum karena kenekatannya, juga aneh!
         Hahaha! Kembali aku menertawainya, dalam hati tentunya. Kalau tidak, aku bisa dicap sebagai anak baru yang berotak miring, karena tertawa sendiri. Pasti dia malu setengah mati, sampai tiba-tiba pergi begitu saja, batinku.
         Dan tak ku sangka, teman lama ku ini membawa kabar tentang anak laki-laki lucu yang ku ceritakan itu. Dia bilang kalau anak itu sekarang sudah cakep! Ahh.. Hatiku pun menghangat mendengarnya. Cakep, ya, dia? Aku jadi penasaran juga, karena temanku bercerita heboh sekali. Dasar cewek genit! HAHAHA XD
         Mendengar kabar yang tiba-tiba, ternyata aku kangen juga pada anak laki-laki itu. Bolehkah aku berharap bertemu dengannya? Bisikku dalam hati. Siapa tahu, takdir akan bermain-main dengan perasaan kita lagi. Mungkin, dengan situasi yang lebih menyenangkan, bukan memalukan seperti tempo hari.  Mungkin aku akan mengobrol panjang-lebar lagi dengannya, seperti yang kami lakukan sewaktu sesudah tragedi―perkenalan―yang―memalukan itu. Dan mungkin saja kali ini, aku mengerti alasan temanku kepincut padanya. Uhuk-uhuk, terlalu banyak kemungkinan. Yah, aku amin-in saja deh. AMINNNNN!! Hehehe  J

Tuesday, 6 August 2013

Agustus penuh makna

Cerita ini berawal dari teman saya yang mengajak saya untuk mengikuti lomba cerpen.
Saya sangat antusias ketika memdengarnya.
Saya berpikir ini sudah saatnya saya untuk memulai kembali.
Sebuah awal. Babak pembuka.
Kemudian saya berpikir lama dan panjang.
Dan semua itu membuat saya bosan.. jenuh..
Saya berpikir sambil melakukan aktivitas lain yang memacu mood saya.
Saya memasak berbagai macam makanan, saya menonton banyak film, menulis, membaca, melihat hujan, mengobrol ngalur-ngidul dengan beberapa teman saya, juga bermain gitar.
Akhirnya setelah menanti cukup lama, saya mendapat sebuah pencerahan.
Beberapa waktu yang lalu, saya berhasil menulis halaman pembuka untuk cerpen saya.
Saya selalu berpikir dan berusaha untuk menyemangati diri bahwa inilah saatnya saya menulis lagi.
Seperti kata pepatah,”memulai sesuatu memang selalu berat.”
Dan akhir-akhir ini, otak saya mengulang-ulang kalimat seperti ini:
“Kalau kamu tidak berhasil jadi pemenang, maka kamu bisa mengikuti kontes lainnya di kesempatan lain.”
Tetapi saya merasa, alam pun mendukung saya.
Okay.. Keep Fighting! Saya akan terus menulis!

Juli dan Cinta

Disini saya akan me-review beberapa pengalaman dibulan lalu.
Saya akan memulainya dari awal liburan saya.
Di awal Juli, saya seperti mendapat inspirasi untuk memasak.
Saya membuat tim tahu, batagor, somay kukus, puding dari kreasi saya sendiri.
Selain menambah pengalaman dan kreativitas dalam menciptakan menu-menu makanan khas saya,
Saya juga mengisi waktu luang dengan menulis, membaca novel, juga bertemu dengan teman lama
Begitu menyenangkan ketika saya menyadari bahwa saya sudah lebih betah berada di dapur, ataupun berkutat berjam-jam di depan laptop demi mencari inspirasi.
Kesenangan tersebut juga bertambah ketika saya bertemu seseorang yang baru.
Pemikirannya terkadang kekanak-kanakkan, dan kadang dewasa sekali.
Saya akui, saya kagum terhadapnya.
Beberapa kali kami mengobrol tak tentu arah, dan saya menemukan beberapa pelajaran baru ketika saya dekat dengannya.
Menyenangkan sekali, bukan?
Saya rasa mungkin saja saya dapat bertemu dengannya lagi.
Semoga.