Sunday, 11 August 2013

Santiago de Compostela


CERITA YANG BERKEMBANG DARI MULUT KE MULUT

Rasul Yakobus berlayar lewat Laut Tengah menuju Spanyol, mendarat di pantai Andalusia di selatan, menjelajahi semenanjung Iberia melalui jalan-jalan Romawi sampai tiba di daerah Galisia di sudut Barat Laut. Di sana ia memaklumkan Injil dan membaptis beberapa orang diantaranya Theodorus dan Athanasius yang kemudian menemaninya kembali ke Yerusalem.

Ketika Rasul Yakobus tiba kembali di Yerusalem, situasi setempat sungguh kurang menguntungkan bagi keamanan umat Kristen. Kelihatannya pada tahun 44 ini situasinya mirip kejadian sembilan tahun sebelumnya ketika Stefanus dirajam menjadi martir yang pertama. Orang-orang Kristen mulai disingkirkan dengan kekerasan bahkan kemudian raja Herodes (nama ini nama gelar) menyuruh membunuh Yakobus, saudara Yohanes dengan pedang. (Kis 12 : 1 – 2). Demikianlah Rasul Yakobus (Tua atau Maior) yang menjadi rasul pertama yang mengorbankan hidupnya demi kesetiaan dan cintanya kepada Kristus. Dia pernah menjadi pemimpin umat di Kota Yerusalem dan kita mengenal SURAT GEMBALA – nya yang menjadi bagian dari Kitab Suci.

(Baik kalau nanti / kemudian Tour Leader atau Romo membacakan beberapa kutipan dan penjelasannya)

Riwayat hidup Rasul Yakobus kemudian dilanjutkan oleh umat beriman dengan pelbagai cerita indah dan sekaligus ajaib, yang mencapai puncaknya dalam jadinya pusat ziarah di Kota Santiago de Compostela.

Konon sesudah kepada Rasul Yakobus dipenggal, jenazah bersama kepalanya yang berdarah dibawa oleh dua muridnya dari Spanyol ke pantai Laut Tengah. Jenazah sang martir itu digotong ke sebuah perahu yang kebetulan tertambat di pinggir laut. Bersama kedua muridnya yang ikut naik, perahu yang tak terkemudi itu digerakkan oleh angin dan arus ke arah barat. Sampailah perahu itu di Semenanjung Iberia atau Spanyol. Konon selama perjalanan laut tersebut, jenazah Yakobus dilapisi oleh kerang-kerang dari suatu jenis yang dapat dimakan. Kerang-kerang itulah yang dijadikan lambang dari peziarahan Santiago dan para peziarahnya. Kerang ini sering juga menjadi simbol dari cintakasih ilahi dan insani yang merupakan pasangan yang paling pas.

Jenazah Rasul Yakobus digotong ke pantai Galisia, lalu Theodorus dan Athanasius minta kepada penguasa setempat yang bernama Lupa (artinya serigala) sebidang tanah guna memakamkan sang rasul. Ratu yang bengis itu mengatakan : “Pergilah ke pegunungan itu dan ambillah sepasang kerbau yang akan menghela kereta jenazah kemana pun engkau mau”. Rupanya kerbau itu adalah sekawanan banteng liar. Alangkah herannya ratu lupa karena ternyata banteng banteng itu jinak di hadapan orang-orang kristen. Lalu dia menyuruh pasukannya untuk mengejar mereka, namun pasukan itu tertahan karena sebuah kali kecil mendadak mulai membanjir. Menyaksikan segenap peristiwa itu, ratu itu bertobat. Kemudian jenazah Rasul Yakobus dimasukkan ke dalam peti marmer (sarchopagus) dan dimakamkan.

Tanpa diketahui siapa pun jenazah Rasul Yakobus beristirahat selama berabad-abad di bawah semak-semak, sampai tahun 813 ditemukan oleh seorang pertapa yang bernama Paio, yang sebelumnya melihat sinar-sinar yang terang bagaikan bintang melintasi pegunungan Libredon (Campus Stellae – lapangan bintang). Jenazah Rasul Yakobus dikenal karena adanya tulisan di batu sarchopagusnya.

Berkat penemuan ini selanjutnya dibangunlah kapel oleh Raja Alfonso II dari Asturia. Bahkan kabar ini pun kemudian disampaikan ke Sri Paus di Roma serta kepada kaisar. Dalam waktu singkat orang-orang datang berziarah bahkan mulai menetap di sekitar makam Santiago. Namun baru pada tahun 1095 tahta Uskup dipindahkan secara resmi ke Santiago de Compostela. Nama tambahan Compostela baru muncul kemudian yang berarti Lapangan Bintang.

Ada cerita yang cukup menarik yang sampai kini masih terus menggema di hati para peziarah atau penduduk Santiago de Compostela yakni cerita tentang penampilan santo Yakobus pada saat pertempuran antara pasukan moslem bersenjata pimpinan Khalif Cordoba dan Raja Asturia dekat Claviyo. Tersebutlah saat kedua balatentara saling memukul dan menikam, sekonyong-konyong tampak seorang pejuang ningrat menunggang seekor kuda putih, dengan tanda salib Yesus di tangan kirinya dan pedang di tangan kanannya. Dia mengalahkan banyak musuh yang kemudian dikenal sebagai Santiago, yang sejak kemenangan ini diberi nama tambahan : Matamoros (pembunuh kaum moros)..

KUNJUNGAN KE SANTIAGO DE COMPOSTELA

Bersama dengan Jerusalem dan Roma, Santiago merupakan salah satu pusat kristiani yang sangat penting. Santiago boleh dikatakan adalah sebuah kota yang dibangun disekeliling makam Rasul Yakobus. Berada di ketinggian 400 meter di atas permukaan laut dan hanya berjarak 30 km saja dari laut. Suhu yang sangat menyenangkan baik di musim dingin maupun panas tetapi pada umumnya Santiago dikenal sebagai kota hujan. Berpenduduk sekitar 90.000 jiwa dan terus bertambah dari hari ke sehari. Di atas semua itu Santiago de Compostela merupakan sebuah Kota yang monumental. Pada tahun 1985 Santiago dinyatakan sebagai Warisan Kemanusiaan dan Jalan Santo Yakobus diterima sebagai Jalan Kebudayaan Eropa Pertama.


YANG MENARIK DARI GEREJA RASUL YAKOBUS


Para peziarah Santiago yang biasa disebut Jacquot (mereka berjalan beribu-ribu kilometer selama berbulan-bulan) datang ke tempat ini dan menatap Katedral Santiago yang agung dan anggun dengan sepenuh diri dari lapangan Obradoiro. Katedral itu berhias indah dengan banyak relief dan patung yang mempesona, dimahkotai dengan dua buah menara yang megah. Fasade bergaya barok itu sungguh mempesona.

Gereja ini pernah dimusnahkan tahun 997 oleh Khalifat Cordoba dan kemudian dibangun lagi menjadi Katedral seperti ini di tahun 1075. Para peziarah menaiki tangga lebar dari kiri dan kanan langkah demi langkah. Betapa terperanjatnya mereka pada saat memasuki Pintu Kemuliaan (Portico de la Gloria). Kurang lebih 250 patung tersusun dalam tiga lingkaran besar merangkul pintu masuk gereja. Sang seniman Mateo-lah yang menghabiskan waktu hingga 20 tahun untuk membuatnya. Kita berada di tengah keluarga besar orang-orang kudus yang dilukiskan oleh Mateo dengan sangat hidup, (berbeda dengan patung-patung kebanyakan di Roma yang cenderung “dingin” dan sangat kental triumfalistisnya). Lihatlah Nabi Daniel yang seakan sedang bercakap-cakap dengan Nabi Yeremiah atau Rasul Yakobus yang sedang berbisik-bisik dengan saudaranya Yohanes sementara Nabi Musa sedang menengokkan kepalanya kepada Nabi Yesaya dls.

Para peziarah dengan penuh cinta dan emosional meletakkan tangan pada tapak yang membekas di atas batu granit (yang terbentuk karena sentuhan tangan jutaan peziarah) serta kepada pada arca singa di bawah patung Santiago, pula membentur-benturkan kepalanya pada arca kepala Santiago tentunya semua ini dilakukan dengan seluruh kepekaan imannya.

Diujung ruangan tengah dari Gereja yang panjangnya 97 meter ini, terdapat sebuah altar kolosal, lengkap dengan malaikat-malaikat dan bunga-bungaan keemasan, tepat di tengahnya bertahta Santiago, berbusana mantilla perak berlapis batu-batu permata dan para peziarah dengan penuh emosional merangkul dan menciumnya (semua harus antri untuk menantikan gilirannya). Selanjutnya para peziarah menuruni tangga menuju ke makam Santiago yang ada di grotto (gua kecil)

Suasana di dalam gereja ini sungguh dilingkupi oleh suasana surgawi dalam gedungnya yang cenderung gelap namun justru umat beriman merasa nyaman dalam rangkulannya yang mantap. Dari sini memang kadang kita berpikir bahwa devosi Kristen tidak jarang bergerak di perbatasan antara perasaan dan pemikiran.

Perlu kita tahu bahwa Katedral ini mempunyai Pintu Sucinya sendiri, namun pintu ini tidak dibuka sesuai dengan apa yang terjadi pada Pintu Suci di Basilika – Basilika di Roma melainkan pada tanggal 25 Juli (Pesta St. Yakobus) jika hari ini kebetulan jatuh pada hari Minggu. Semisal tahun 1989, Bapa Suci juga hadir di sana untuk merayakan tahun suci yang ke - 116. Tiap hari setiap jam 12 siang pada tahun suci ini diadakan Misa Agung dan kemudian ditutup dengan ayunan Botafumeiro yang sangat tipikal Santiago. Tempat pedupaan ini hampir setinggi satu meter, yang diayun oleh sekitar 8 petugas. Ketika pedupaan ini berayun – ayun ke kiri dan ke kanan bahkan kadang hampir menyentuh atap plafon yang sangat tinggi itu, asap dupa membubung ke atas dan memenuhi ruangan, menghantar semua doa kepada Allah dan sekaligus menjadi tanda hormat dan sembah pada Tuhan serta sarana pemurniaan bagi umat.

Selamat berziarah, semoga perkembangan sarana – sarana transportasi yang kian canggih, tidak mengurangi kepekaan iman kita akan misteri – misteri Illahi.



Gereja Katedral


Bentuk kerang sebagai lambang Santiago de compostela


No comments:

Post a Comment