Sunday, 13 July 2014

Tuan Pasir

     Jadi.. inilah rasanya menjadi hujan yang selalu menyapa padang pasir kering tanpa mendengar jawabnya. Meskipun debu-debu gurun menamparku, berkata bahwa sebaiknya aku pergi, namun terkadang aku rindu nuansa hangat ketika aku bersentuhan denganmu, Pasir. Ada berbagai perasaan yang mengalir sekaligus menguap bersama tiupan debu gurun yang sinis. Mentari siang juga menatapku dengan misterius. Seakan-akan ia ingin memberi pesan bahwa nantinya aku akan melihat sendiri Tuan Pasir yang sebegitu diamnya.

     Kata orang, diam itu emas. Tapi, apakah aku bisa kondisikan juga hal itu di kasus ini? Pasir yang bercahaya dibawah terik mentari tampak seperti lautan emas. Mungkin iya, karena aku juga menganggapmu berharga. Hanya saja, Tuan Pasir kadang terlalu hangat untuk ku sentuh. Apakah hatimu juga begitu, Tuan? Salahkah aku menyimpan perasaan ini lekat-lekat didalam dada? Dan ku bawa angan untuk bertemu denganmu setiap hari dalam tidurku. Salahkah??

     Mereka mungkin mengejekku, merendahkanku. Tapi aku tak peduli. Setidaknya, Tuan Pasir menyambut pelukanku dengan lebih lapang. Dapatkah ini menjadi kenyataan? Atau mungkin aku harus menunggu lagi? Oh tidak apa-apa, aku tidak keberatan. Hanya saja, berikan aku petunjuk supaya aku tidak keliru untuk bertahan sejauh ini. Agar aku dapat membungkam debu-debu kotor yang melingkupimu, dan mentari siang dengan tatapan misteriusnya. Jadi.. Bagaimana, Tuan Pasir?

2 comments:

  1. always love your story, cheer up girl!
    warm regards,
    blushpinkies.blogspot.com

    ReplyDelete
  2. gomawo Ai chan!!! hehehe.. lagi semasa galau nich.. wkwk

    ReplyDelete