Sunday, 3 August 2014

Pelukan Gadis Laut

Cerita Fiksi:

Di bawah langit kemerahan sore itu.
Angin bertiup melambai
Deburan ombak berkejaran menyapu kaki Gadis itu sekilas
Ia datang ke tempat ini bukan untuk bertemu dengan si Penulis atau melihat istana pasir yang menjulang.
Kedatangannya semata-mata untuk mengobati rasa rindu dengan pantai dan aroma laut
Dan ia tak sendirian, dia berjumpa lagi dengan anak kecil yang ia temui sebelumnya.

'dia sedang sedih' pikir Gadis laut.
Pelan namun pasti, Gadis itu menghampirinya,
melingkarkan tangan di balik tubuh mungil dihadapannya
Anak itu juga melakukan hal yang sama
Si Gadis laut merasakan kehangatan yang mengalir dari anak itu
Ia merasa tenang. Merasa bahagia.
Ia bahagia menemukan seseorang untuk berbagi, walau hanya dengan sebuah pelukan.
Tapi baginya, pelukan itu menjadi pelukan yang tak terlupakan olehnya.

Dalam pikiran si Gadis, melintas wajah seseorang. Ia ingat terakhir kali ia berbagi pelukan hanya dengannya 6 tahun yang lalu.
Selang waktu yang cukup lama, tapi ia masih ingat setiap perkataan orang itu ketika momen pelukan terakhir tempo hari.
Pandangannya menjadi buram karena air mata yang menggumpal dan memaksa hendak keluar, tetapi ia berusaha menenangkan dirinya dan memendam rahasia itu seorang diri lagi.
Si gadis melepaskan pelukan dan menatap ke dalam mata anak kecil itu.
“jangan sedih lagi ya. Selama kau punya aku sebagai teman berbagi, aku akan membantumu semampuku. Kalau kau butuh aku, datanglah ke tempat ini.”
Anak itu tersenyum dan berbalik pergi. Si Gadis lega ia bisa membagi dirinya walau hanya dalam satu pelukan kecil yang menenangkan.



Cerita Fakta:

Gue duduk di bangku paling depan waktu kelas teori ini dimulai. Sebenernya tiap hari gue emang sengaja datang cepat biar kebagian duduk di depan.
Nah pas gue lagi asik-asik dengerin dongeng pengantar tidur karya dosen gue, anaknya ngehampirin gue, trus duduk di bangku kosong samping gue.

Gue merhatiin terus tu anak ngapain kok berani-beraninya nyamperin orang asing duluan. Terus akhirnya gue ngajak ngobrol tu anak. Dia namanya Clarie, umurnya baru 5 tahun, dan baru kelas 1 SD.

Lama ngobrol sama anaknya sampe gue hampir ga dengerin ocehan mamanya tentang teori metodologi. Ampyunnn dehh.. gue lebih tertarik dengerin anaknya ngoceh sueerr. Sampe akhirnya kelas pun selesai.

Nah pas kelar kelas, gue iseng menghalangi anak dosen itu. Jujur, anaknya lucu dan pinter banget. Gue seneng becandaan sama dia. Rasanya kayak punya adek yang ga pernah gue miliki. Hahaha. Emang rasanya gimana ya? Hmm.

Nah lanjut lagi. wkwkwk. Jadi, abis itu, Clarie meluk gue erat banget, kayak cicak sama tembok: ga mau lepas. Hati gue yang selembut sutra pun akhirnya tersentuh juga. Gue balik meluk dia, dan gue bisa ngerasain perasaan Clarie. Dia itu tulus dan penyayang. Entah kenapa, dengan pelukan sesaat itu, gue jadi serasa dapet indra keenam buat liat pribadi orang. Trus gue lepasin pelukan itu dan megang puncak kepalanya. Gue bilang, gue mau balik dulu. (wkwkwk). Mata anak itu bersinar-sinar dan dia bilang: bye bye.
Astagaaa.. kayanya gue mulai jatuh cinta sama anak kecil!


No comments:

Post a Comment