Friday, 29 May 2015

Perihal Cerita dan Rahasia Manis Dari Sebuah Lagu

"Aku percaya bahwa sebuah lagu memiliki kenangan dan rahasianya sendiri - Ai"


     Sekitar tiga tahun yang lalu seorang teman yang baik mengenalkan aku sebuah lagu apik. Aku mengenali lagu tersebut adalah lagu dari OST film Thailand. Meski aku tidak mengerti bahasa dan makna dari lagu ini, aku sangat menikmati beat dan tiap lirik yang dinyanyikan. Seperti ada rahasia yang tersimpan dari lagu dan hati si penyanyi.

     Ahhh... Aku sering--lebih tepatnya tiap hari-- memutar lagu ini hingga tak terhingga untuk mengingat kembali film yang ku tonton (salah satu kebiasaan yang ga berubah dari dulu). Habis, ulang lagi. Habis, ulang lagi. Rasanya seperti ada perasaan yang tertinggal ketika lagu ini habis, maka dari itu aku selalu mengulangnya terus. 

     Aku menikmati setiap nada, tekanan, dan irama yang membuatku berpikir aku tidak perlu tau arti dari lagunya. Bukankah terkadang kita hanya perlu menikmati sebuah lagu dan perasaan yang mengalir dari lagu tersebut tanpa harus mengerti maknanya? Dan walaupun tidak mengerti makna dari sebuah lagu, lagu tersebut memiliki kenangan dan perasaannya sendiri.

     Seperti saat tiga tahun yang lalu--tepatnya malam ini--aku mendengar lagi tembang lagu penuh kenangan itu. Hati dan pikiranku seakan terseret kembali ke saat usiaku 18 tahun. Ketika pertama kali aku diperdengarkan lagu yang menyenangkan ini, dan aku hanyut sehanyut-hanyutnya. Sambil menikmati hanyut dengan lagu ini, akhirnya aku membaca arti dari liriknya, berulang-ulang hingga aku merasa cukup.

     Bagiku, lagu ini dikenalkan tidak hanya sebagai lagu perkenalan saja atau lagu dengan tembang yang menarik hingga membuat pendengar akan mengulangnya tanpa bosan. Tidak. Lagu ini punya rahasia. Lagu ini punya cerita yang ketika dinyanyikan seakan bercerita kepada orang banyak mengenai rahasianya, sehingga lagu ini memiliki rahasia yang dimiliki setiap orang. Dan sama seperti lagu ini, aku juga punya rahasia. Tapi, seperti lagu ini pula, ada kalanya rahasia tidak perlu diungkapkan karena tidak bisa diungkapkan, hanya saja semoga kelak rahasia ini juga akan pantas diperdengarkan kepada orang banyak. Semoga saja.

Thursday, 28 May 2015

Perihal Belajar Menari Dalam Hujan

     "Memulai segala sesuatu memang selalu menakutkan, tetapi kau tidak akan sadar mampu menjalaninya ketika kau sudah menjalaninya."


     Gading Serpong (26/6/2015) - Malam sebelumnya saya sengaja tidur tidak terlalu larut untuk mempersiapkan sidang hari itu. Paginya saya sengaja bangun saat langit masih gelap dan udara yang membeku. Jari kaki dan tangan saya kaku, lesu. Menolak untuk melenyapkan kantuk yang menggantung di mata. Akhirnya saya melawan kantuk dengan main game sebentar (aneh ya?). Setelah itu saya meregangkan tubuh dan menyiapkan seluruh bahan presentasi, proses kerja, dan hasil akhir.

     3 jam kemudian....
     "Whoaaaa udah pagi menn!" jeritku tertahan. Duh. Giliranku adalah urutan ke 4 di pukul 9, dan rupanya jadwal sidang ngarett! Sedikit lega, banyak paniknya. Saya kurang percaya diri dengan progress yang sudah saya kerjakan meskipun teman saya memastikan:

     "Percaya sama gue, lu pasti lulus. Progress lu udah kelar, lu print mock up-nya banyak." Saat itu sudah digiliran ketiga dan mendadak perut saya mulas. Saya mondar-mandir demi menenangkan diri, tak peduli teman-teman lain yang sidang hari itu juga menahan geli.

     30 menit berjalan semulus yang tak kuduga dan ternyata lebih mulus daripada sidang 1. Saat keluar dari "ruang panas" (saya ga lebai tapi emang beneran panas, gerah banget di dalem!) saya bisa menarik napas lega. Saya bisa melewati satu tahap lagi dengan amat baik rupanya, setidaknya seorang dosen killer yang menguji saya saat itu berkomen positif: "Jujur logo kamu itu Eropa banget!".

     Kemudian, teman-teman satu bimbingan mengerubungi saya seperti lebah, dan saat itu saya bisa menenangkan mereka semua: "Udahh, kalian udah pasti aman kok. Siapin data proses aja yang banyak, di dalem ga ditanyain aneh-aneh, cuma diliat seberapa banyak progress aja." Semua diam dan memastikan semua akan baik-baik saja dalam hati, setidaknya mereka lega karena setiap personil yang masuk akan keluar dengan wajah sumringah karena sidang sukses berat! *prok prok prok*

     Tinggal satu langkah lagi untuk mencapai gelar Sarjana Desain (S.Ds), dan saat ini saya sangat bersemangat untuk menyelesaikan semua revisi dan laporan. Satu langkah lagi untuk menggenapi semua janji dari 4 tahun masa perkuliahan ini.


Full Team TenTAra Grafis VI (usai pra sidang 3)

     Big thanks to Mr. Darfi!!! Si dosen gaul selalu punya waktu untuk membimbing bocah-bocah ini, kalau mau bimbingan pake panik dan deg-degan dulu, takut progress ga seberapa. Tapi kalau ga bimbingan panik juga karena nanti proyeknya hancur hahahaha. Duh 4,5 bulan yang penuh pahit dan manis, tapi semoga akhirnya akan sangat manis. Saya percaya janji Tuhan bahwa selalu ada hal indah sehabis badai menerpa. Bahwa akan lebih baik belajar menari dalam hujan daripada menanti hujan untuk berhenti. Kita akan belajar menikmati bahwa tidak setiap rintik hujan akan menyakitkan dan menakutkan, karena seusai hujan berhenti maka selalu ada guratan aneka warna yang melengkung di langit.

Semoga Tuhan pun akan selalu menyertaimu ya, Mas Darfi! God Bless Us

#11 Quotes of the day

Terkadang dalam banyak keterbatasan, kita harus sabar menunggu rencana terbaik datang, sambil terus melakukan apa yang bisa dilakukan.

Tuesday, 12 May 2015

Perihal Keuntungan Dalam Kerugian

"Kebahagiaan tidak akan mengajarkan apa-apa pada kita, tapi kesedihan akan mengajarkan semuanya."


     Saya selalu suka dengan nasihat lama ini, entah saya pernah baca dimana, tapi setelah bertahun-tahun berkelana ke Semarang, Palembang, dan Tangerang, saya akhirnya benar-benar mengalaminya saat ini. 

     Berhubung dalam prosesi tugas akhir ini, saya kembali datang untuk bercerita. Beberapa hari lalu setelah berada ditahap yang mengkhawatirkan, akhirnya saya bisa "move on" ke tugas selanjutnya karena "bapak kece" menyatakan proses awal saya berlangsung baik (setelah ditambal sana-sini).

     Saya pun diperbolehkan mengambil waktu istirahat sejenak sebelum melanjutkan proses selanjutnya. Sehari berlalu.. Dua.. Tiga.. Empat hari pun terlewati.. Saya melakukan beberapa kecerobohan yang sadar maupun tidak disadari. Mungkin saya terlalu terbuai dengan statement:
"Masih ada hari esok." atau..
"Ahh.. Si A, B, C aja belum pernah bimbingan lagi kok."

     Entah apa yang terjadi saat ini, tetapi rasanya saya telah kembali ke zona nyaman, lupa bahwa harus bekerja lebih keras lagi, menolak untuk menanggung tanggung jawab yang lebih besar.

Lalu saat kembali mengevaluasi, ternyata saya sudah maju sepuluh langkah (wohooo!). Kemudian mundur lima belas langkah. Minus lima. Siapa sih yang mau ketika sudah berlari sekencang mungkin untuk maju, tapi ternyata yang terjadi adalah kemunduran? Tidak ada. Saya pun tidak mau. Saya sedih, saya kecewa. Saya ingin mengeluh atas semua perjuangan ini. Namun, akhirnya saya belajar bahwa proses itu memang tidak ada yang menyenangkan.

Proses selalu menyakitkan bahkan mengecewakan. Terkadang pun iblis berbisik di telinga menyuruh saya berhenti. Lalu saya tergoda untuk berpikir lebih enak kalau menyerah saja. Tapi.. Tidak segampang itu. Hanya dengan adanya kesedihan, perjuangan, dan pengorbananlah yang akan mengajarkan bagaimana cara untuk bertahan.

Dari rasa kecewa saya belajar untuk bisa lebih menghargai. Menghargai atas segala usaha yang telah dilakukan sampai di langkah ini. Karena, kalau hanya ongkang-ongkang kaki dan menanti nilai bagus, maka kita tidak akan pernah belajar untuk bertahan. Tidak belajar untuk hidup.

     Dan dari semua waktu yang sudah dilalui sejauh ini, tidak ada yang saya sesalkan. Walaupun saya telah merugi, tapi saya paham betul bahwa kemunduran adalah proses untuk maju dengan langkah yang lebih mantap. Jadi, saya menghargai setiap proses yang tidak menyenangkan ini. Proses keluar dari sebuah kotak. Maju kemudian mundur lagi, tapi yang pasti jangan berhenti.

Ketika memutuskan untuk berhenti, maka lenyaplah sudah.

Sunday, 3 May 2015

Perihal Kesabaran Dalam Sebuah Kotak

       Pagi ini saya terbangun lagi dengan perputaran sebuah rutinitas sejak 2,5 bulan yang lalu: mengerjakan tugas akhir. Setiap pagi yang saya lalui saya syukuri karena saya setidaknya Tuhan memberikan saya waktu untuk menikmati semua yang kumiliki saat ini. Salah satunya adalah kuliah, saya diberikan kesempatan untuk belajar di sebuah universitas unggul di wilayah Tangerang.

       Seiring dengan rutinitas itu, akhir-akhir ini pun pikiran saya otomatis berjalan mundur ke 3,5 tahun silam, tepat di bulan-bulan terakhir saya di SMA Xaverius 3. Saat itu, saya dijatuhkan pada 2 pilihan jurusan: Desain Komunikasi Visual atau Desain Interior. Setelah berhari-hari berpikir dalam diam, ternyata pilihan saya cenderung lebih berat pada Desain Komunikasi Visual di universitas milik Kompas ini. Saya berteriak semangat untuk mengganti status pelajar menjadi mahasiswa. Mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Saya memeluk angan untuk dapat bekerja di Gramedia atau Kompas setelah lulus, saya bisa membuat cover novel, dan bekerja dengan orang-orang yang punya tekad dan skill yang profesional. Itulah pemikiran saya tempo hari.

       Sekarang, pagi ini.. Saya berpikir lagi. Ketika saya buntu dengan kotak-kotak yang ada di kepala saya, saya mulai bertanya lagi pada diri sendiri, apakah saya stuck hanya di kotak yang sama? Mulai jenuh karena rasanya saya tidak maju-maju dalam mengerjakan proyek ini. Saya mengulang-ulang sketsa yang sama. Padahal pada mulanya saya memilih jurusan ini. Apakah saya terbilang seorang pecundang yang bahkan meletakkan senjata tempur di penghujung masa berperang? Mental yang lemah dan cupu. Apakah begitu?

       Jawabannya pun akhirnya saya temukan ketika saya merenung tentang passion saya sebagai seorang penulis. (tolong jangan tanya kenapa cita-cita saya penulis tapi sekolah desain, itu beda lagi ceritanya)

       Saya mengenal istilah Writer's Block, yaitu suatu kondisi dimana seorang penulis merasa tidak bisa menulis, tulisannya terasa hambar, bahkan miskin ide. Lalu saya tersadar bahwa ternyata hampir semua orang pernah merasakan stuck, berputar-putar di kotak yang sama, rasanya tak ada jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ada rasa kejenuhan juga untuk terus mencoba, hilang kesabaran, ingin cepat-cepat keluar dari kotak, mulai menggedor-gedor berharap orang lain akan mendengar dan membukakan pintu. Tapi, rupanya stuck adalah sebuah proses dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Masalah akan ditemui semua orang, hanya saja untuk cara penyelesaian tiap orang yang berbeda-beda, dan proses itu yang membuat kita menjadi letih.

       Intinya, hal yang ingin saya sampaikan adalah bersabarlah. Kita harus mencoba berbagai cara, melihat dari berbagai sudut pandang. Karena kita tidak tahu cara ke berapa yang akan berhasil. Bolehlah ketika letih, kita duduk diam sejenak, tetapi jangan terlalu lama. Ambil sejenak saja, lalu mencoba lagi, lagi, dan lagi. Siapa tahu kita baru mencoba 1000 cara, dan kita akan mendapatkan celah terbuka di cara yang ke 1001.

       Perlahan-lahan, entah dengan cara bagaimana hingga akhirnya kita bisa melihat sinar mengintip diantara katup kotak. Ada celah kecil tempat kita akan keluar dari kebuntuan yang penat. Ketika kita sudah mampu bersabar, sisanya mudah saja.