Sunday, 3 May 2015

Perihal Kesabaran Dalam Sebuah Kotak

       Pagi ini saya terbangun lagi dengan perputaran sebuah rutinitas sejak 2,5 bulan yang lalu: mengerjakan tugas akhir. Setiap pagi yang saya lalui saya syukuri karena saya setidaknya Tuhan memberikan saya waktu untuk menikmati semua yang kumiliki saat ini. Salah satunya adalah kuliah, saya diberikan kesempatan untuk belajar di sebuah universitas unggul di wilayah Tangerang.

       Seiring dengan rutinitas itu, akhir-akhir ini pun pikiran saya otomatis berjalan mundur ke 3,5 tahun silam, tepat di bulan-bulan terakhir saya di SMA Xaverius 3. Saat itu, saya dijatuhkan pada 2 pilihan jurusan: Desain Komunikasi Visual atau Desain Interior. Setelah berhari-hari berpikir dalam diam, ternyata pilihan saya cenderung lebih berat pada Desain Komunikasi Visual di universitas milik Kompas ini. Saya berteriak semangat untuk mengganti status pelajar menjadi mahasiswa. Mahasiswa Desain Komunikasi Visual. Saya memeluk angan untuk dapat bekerja di Gramedia atau Kompas setelah lulus, saya bisa membuat cover novel, dan bekerja dengan orang-orang yang punya tekad dan skill yang profesional. Itulah pemikiran saya tempo hari.

       Sekarang, pagi ini.. Saya berpikir lagi. Ketika saya buntu dengan kotak-kotak yang ada di kepala saya, saya mulai bertanya lagi pada diri sendiri, apakah saya stuck hanya di kotak yang sama? Mulai jenuh karena rasanya saya tidak maju-maju dalam mengerjakan proyek ini. Saya mengulang-ulang sketsa yang sama. Padahal pada mulanya saya memilih jurusan ini. Apakah saya terbilang seorang pecundang yang bahkan meletakkan senjata tempur di penghujung masa berperang? Mental yang lemah dan cupu. Apakah begitu?

       Jawabannya pun akhirnya saya temukan ketika saya merenung tentang passion saya sebagai seorang penulis. (tolong jangan tanya kenapa cita-cita saya penulis tapi sekolah desain, itu beda lagi ceritanya)

       Saya mengenal istilah Writer's Block, yaitu suatu kondisi dimana seorang penulis merasa tidak bisa menulis, tulisannya terasa hambar, bahkan miskin ide. Lalu saya tersadar bahwa ternyata hampir semua orang pernah merasakan stuck, berputar-putar di kotak yang sama, rasanya tak ada jalan keluar dari permasalahan yang dihadapi. Ada rasa kejenuhan juga untuk terus mencoba, hilang kesabaran, ingin cepat-cepat keluar dari kotak, mulai menggedor-gedor berharap orang lain akan mendengar dan membukakan pintu. Tapi, rupanya stuck adalah sebuah proses dalam berpikir dan menyelesaikan masalah. Masalah akan ditemui semua orang, hanya saja untuk cara penyelesaian tiap orang yang berbeda-beda, dan proses itu yang membuat kita menjadi letih.

       Intinya, hal yang ingin saya sampaikan adalah bersabarlah. Kita harus mencoba berbagai cara, melihat dari berbagai sudut pandang. Karena kita tidak tahu cara ke berapa yang akan berhasil. Bolehlah ketika letih, kita duduk diam sejenak, tetapi jangan terlalu lama. Ambil sejenak saja, lalu mencoba lagi, lagi, dan lagi. Siapa tahu kita baru mencoba 1000 cara, dan kita akan mendapatkan celah terbuka di cara yang ke 1001.

       Perlahan-lahan, entah dengan cara bagaimana hingga akhirnya kita bisa melihat sinar mengintip diantara katup kotak. Ada celah kecil tempat kita akan keluar dari kebuntuan yang penat. Ketika kita sudah mampu bersabar, sisanya mudah saja.

2 comments:

  1. Semangat ceceh aran~ <3
    Jalan-jalan mungkin bisa bikin fresh~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyaaa ceceh agnes.. maaciih :"
      makan aja udah cukup :p

      Delete