Tuesday, 12 May 2015

Perihal Keuntungan Dalam Kerugian

"Kebahagiaan tidak akan mengajarkan apa-apa pada kita, tapi kesedihan akan mengajarkan semuanya."


     Saya selalu suka dengan nasihat lama ini, entah saya pernah baca dimana, tapi setelah bertahun-tahun berkelana ke Semarang, Palembang, dan Tangerang, saya akhirnya benar-benar mengalaminya saat ini. 

     Berhubung dalam prosesi tugas akhir ini, saya kembali datang untuk bercerita. Beberapa hari lalu setelah berada ditahap yang mengkhawatirkan, akhirnya saya bisa "move on" ke tugas selanjutnya karena "bapak kece" menyatakan proses awal saya berlangsung baik (setelah ditambal sana-sini).

     Saya pun diperbolehkan mengambil waktu istirahat sejenak sebelum melanjutkan proses selanjutnya. Sehari berlalu.. Dua.. Tiga.. Empat hari pun terlewati.. Saya melakukan beberapa kecerobohan yang sadar maupun tidak disadari. Mungkin saya terlalu terbuai dengan statement:
"Masih ada hari esok." atau..
"Ahh.. Si A, B, C aja belum pernah bimbingan lagi kok."

     Entah apa yang terjadi saat ini, tetapi rasanya saya telah kembali ke zona nyaman, lupa bahwa harus bekerja lebih keras lagi, menolak untuk menanggung tanggung jawab yang lebih besar.

Lalu saat kembali mengevaluasi, ternyata saya sudah maju sepuluh langkah (wohooo!). Kemudian mundur lima belas langkah. Minus lima. Siapa sih yang mau ketika sudah berlari sekencang mungkin untuk maju, tapi ternyata yang terjadi adalah kemunduran? Tidak ada. Saya pun tidak mau. Saya sedih, saya kecewa. Saya ingin mengeluh atas semua perjuangan ini. Namun, akhirnya saya belajar bahwa proses itu memang tidak ada yang menyenangkan.

Proses selalu menyakitkan bahkan mengecewakan. Terkadang pun iblis berbisik di telinga menyuruh saya berhenti. Lalu saya tergoda untuk berpikir lebih enak kalau menyerah saja. Tapi.. Tidak segampang itu. Hanya dengan adanya kesedihan, perjuangan, dan pengorbananlah yang akan mengajarkan bagaimana cara untuk bertahan.

Dari rasa kecewa saya belajar untuk bisa lebih menghargai. Menghargai atas segala usaha yang telah dilakukan sampai di langkah ini. Karena, kalau hanya ongkang-ongkang kaki dan menanti nilai bagus, maka kita tidak akan pernah belajar untuk bertahan. Tidak belajar untuk hidup.

     Dan dari semua waktu yang sudah dilalui sejauh ini, tidak ada yang saya sesalkan. Walaupun saya telah merugi, tapi saya paham betul bahwa kemunduran adalah proses untuk maju dengan langkah yang lebih mantap. Jadi, saya menghargai setiap proses yang tidak menyenangkan ini. Proses keluar dari sebuah kotak. Maju kemudian mundur lagi, tapi yang pasti jangan berhenti.

Ketika memutuskan untuk berhenti, maka lenyaplah sudah.

No comments:

Post a Comment