Sunday, 26 February 2017

Dua Belas Lilin

Apa kabar?

Selamat ulang tahun untuk gadis kecil tak berdaya
Gadis rapuh dengan seringai lemah yang tak luput dalam ingatan
Air mata selalu jadi rona dari pipi putihmu
Kecil, kurus, hidup dalam lumpur jalanan

Apa kabar?
Apakah kamu bertumbuh baik?
Dan apa kabarnya orang bergelang karet biru itu?
Aku melihatnya dalam bayang-bayang yang semakin muram
Tak ada sisa segurat keceriaan polos di wajah orang itu

Apa kabarnya?
Ku dengar kabarnya yang selalu berkabar pada debu-debu jalanan
Bertemu dengan segumpal kertas pencari orang hilang di tepi taman dan sawah
Tak jelas kemana arah kakinya yang dulu kecil

Ku rasa anak gelang karet biru itu hanya akan mendengar kabar dari ocehan burung-burung di sawah
Menyimpang, membayang, menghilang
Yang bahkan tak kenal apakah umbi atau seonggok kentang

Aku melihat samar punggungnya yang berbalik menjauh lewat pecahan-pecahan kaca masa lalunya
Noda merah tercetak jelas pada jari-jari kakinya yang tak beralas,
dan buku tangannya memutih menggenggam erat sisa angan yang telah menguning

Apa kabarmu kini?
Apa kabarnya kini?
Sepertinya satu batang lilin diatas kuemu tak akan pernah hidup
Karena ia tak akan mampu untuk mengabulkan inginmu untuk jadi satu rona kemerahan di pipi orang itu

Tapi biarlah angan itu tetap tertiup dengan uap panas lilin yang telah meluber
Tak ada sisa rasa manis dan tawa dari kue ke tiga belasmu
Biarlah ia kembali pada hakekat yang absolut
Membayang dan menghilang

No comments:

Post a Comment